Mengapa SHAFIRA Sukses Bertahan 30 Tahun?

Perjalanan Shafira menemani wanita muslimah Indonesia sudah berjalan lebih dari seperempat abad. Tak bisa dimungkiri, semakin marak dan beragamnya produk serupa yang mencoba untuk menapaki bisnis busana muslim Indonesia tentu menjadi tantangan. Namun, Ibu Feny Mustafa selaku Founder & President of Commisioner Shafira Corporation memiliki kiat khusus dalam mempertahankan brand pelopor ini di hati para wanita muslim Indonesia.

Shafira merupakan jawaban yang diciptakan oleh Ibu Feny atas masalah yang ditemuinya pada era tahun 1980-an.


Dahulu, mengenakan busana muslim tak sebebas saat ini. Banyak ditemukan tentangan dari instasi untuk mengenakan busana muslim. Bahkan menyertakan pas foto dengan busana muslim saja menjadi kendala. Masyarakat di masa itu masih memiliki pandangan mereka yang mengenakan busana muslim tidak lagi bisa tampil fashionable. Dengan model yang itu-itu saja, penampilan seorang wanita yang berbusana muslim seringkali dinilai “kuno”.


Situasi tersebut menggugah Ibu Feny untuk menciptakan busana muslim yang bisa diterima oleh masyarakat dan melahirkan brand busana muslim, Shafira.


Ibu Feny menyebutkan bahwa hal dasar yang perlu dilakukan saat memulai bisnis adalah menghitung dan melakukan survei. Menurut beliau, bisnis adalah science yang perlu diperhitungkan dengan tepat. Jika kita menemukan peluang besar dari perhitungan yang kita lakukan, maka kita perlu mencoba bisnis tersebut. Namun, saat perhitungan dan survei yang kita lakukan menunjukkan bahwa bisnis yang kita pilih tidak memiliki peluang besar, kita perlu memulai dari awal dengan mencari ide lain yang lebih cetar.


Tak banyak modal yang dimiliki Ibu Feny di awal menapaki bisnis ini. Ia menggunakan relasi untuk bisa membantu permodalan dengan jaminan dirinya sebagai seseorang yang capable membangun bisnis dari nol. Memulai bisnis ketika masih kuliah di tahun ketiga, Ibu Feny berhasil mengumpulkan modal kurang lebih enam juta rupiah dari rekan dan kerabat.


Keberhasilan mendapatkan modal berupa materi seperti itu tidak lantas membuat Ibu Feny dengan mudah mengukir nama Shafira di hati wanita muslim Indonesia. Modal berupa kreativitas menjadi salah satu kunci suksesnya hingga saat ini.


Selain dua hal penting tersebut, ia juga yakin bahwa seorang entrepreneur seperti dirinya juga harus memiliki skill yang ia pelajari dari Nabi Muhammad Saw.


  1. Sidiq (bisa dipercaya)

Bisnisnya ini harus bisa dipercaya tidak hanya oleh investor, tetapi juga oleh konsumen.

“Jika investor tidak percaya, ia tidak akan meminjamkan uang sebagai modal. Tapi jika konsumen tidak percaya pada produk yang kita jajakan, mereka tidak akan membeli apalagi mempromosikan produk kita kepada teman-temannya,” tutur Ibu Feny.


  1. Silaturahmi (menjalin networking)

Ajang silaturahmi, atau yang saat ini lebih sering disebut dengan menjalin networking) dapat digunakan sebagai salah satu cara kita berpromosi. Biasanya di setiap pertemuan, obrolan akan apa pun dapat mengalir begitu saja. Dengan menyelipkan info produk saat bersilaturahmi, konsumen akan semakin paham dengan produk yang kita miliki. Sambil beribadah (baca: silaturahmi), kita juga bisa melakukan branding.


  1. Leadership (kepemimpinan)

Jiwa kepemimpinan yang baik dapat membuat komunitas bisnis bekerja dengan maksimal, baik, dan tetap bersemangat. Tentu saja akhlak pemimpin juga menentukan kinerja perusahaan. Leader yang membawa energi positif, akan menularkan semangat positif kepada tim di bawahnya.


Tiga hal tersebut selalu ia terapkan sehingga Shafira bisa bertahan di tahun ke-30.


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published