Kesalehan jiwa dan perilaku orang tua memiliki andil yang besar dalam membentuk kesalehan anak, yang akan membawa manfaat bagi anak baik di dunia maupun di akhirat.

Berkah dan balasan Allah s.w.t. atas amal-amal saleh misalnya berupa, kesalehan, perlindungan, pemeliharaan, keluasan rezeki, dan kesehatan yang dikaruniakan kepada anak. Begitupun sebaliknya, kecaman dan balasan Allah s.w.t. atas amal-amal buruk misalnya berupa, kesesatan, musibah, penderitaan, penyakit dan persoalan-persoalan pelik yang menimpa anak.

Karena itulah, orang tua harus memperbanyak amal-amal saleh. Karena amal-amal tersebut berpengaruh pada anak.

Makan, minum dan berpakaianlah dari usaha yang baik, agar dapat memanjatkan doa kepada Allah dengan tangan yang bersih dan hati yang suci. Sehingga, doa untuk kesalehan anak akan terkabul dan Allah s.w.t. pun memberkati mereka. Allah s.w.t. berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27). Rasulullah s.a.w. bersabda, “Seseorang menempuh perjalanan amat jauh, rambutnya compang camping dan penuh debu, menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan makanan haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan.”

Mulut yang dikotori dengan makanan haram, dusta ghibah, namimah (mengadu domba), hinaan dan caci maki bahkan syirik. Apakah doa akan dikabulkan dengan keadaan seperti itu? Untuk itu, sebagai orangtua, sudah menjadi kewajiban bertakwa kepada Allah s.w.t. dengan melaksanakan amal-amal saleh, agar doa yang dipanjatkan untuk kebaikan anak dapat dikabulkan.

Membaca Kitab Allah menjadi salah satu jalan agar rahmat dan ketenangan Allah turun. Sebab, para malaikat akan turun ketika mendengar lantunan al-Qur’an dibacakan. Seperti dalam hadist Abu Hurairah r.a., bahwasannya ia berkata, Rasullulah s.a.w. bersabda “…Tidaklah satu kaum berkumpul di dalam satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali akan turun ketenangan kepada mereka, diliputi kasih sayang dan dikelilingi malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di dekat-Nya.”

Sedangkan setan akan lari ketika mendengar al-Qur’an. Dari Abu Hurairah r.a., Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat al-baqarah (ayat-ayat perlindungan) didalamnya.”.

Tidak diragukan lagii turunnya malaikat pasti disertai dengan turunnya ketenangan dan rahmat. Hal tersebut dapat memberi pengaruh pada diri dan keselamatan anak. Namun, jika orang tua tidak pernah membaca al-Qur’an dan lalai berzikir, maka rumah akan didatangi dan diserbu setan. Sebab setan suka sekali tinggal di rumah yang penuh dengan musik dan gambar-gambar haram. Hal ini juga dapat membawa pengaruh yang kurang baik bagi diri anak dan mendorong anak pada kemaksiatan dan kerusakan.

Anak yang selalu melihat orangtuanya berzikir, bertahlil, bertahmid, bertasbih dan bertakbir akan meniru ucapan dari orang tuanya. Anak yang selalu melihat orangtuanya berpuasa senin-kamis dan shalat berjamaah di masjid, tidaklah sama dengan anak yang selalu melihat orang tuanya pergi ke bioskop dan hiburan lain. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang tuanya.

Demikian pula halnya dengan anak putri yang melihat ibunya selalu berjilbab, menjaga jarak dengan lelaki lain, penuh rasa malu dan memelihara kesucian tubuh dan jiwanya, tentu sang anak akan belajar malu dan belajar memelihara kesucian tubuh dan kebersihan jiwa.

Untuk itu, ayah adan ibu adalah teladan bagi putra-putri dalam hal agama, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, akhlak, perangai dan tutur kata.

 Source

al-Ádawy, Mustafa. Fiqh at-Tarbîyah al-Abnâ wa at-Thaífah min an-Nashâíh alAthibbâ, Terj. Umar Mujtahid dan Faisal Shaleh. 2006. Fikih Pendidikan Anak, Membentuk Kesalehan Anak Sejak Dini, Jakarta: Qisthi Press.